Pembahasan Tentang PER (Price Earning Ratio)

Pembahasan Tentang PER (Price Earning Ratio)

 

Salah satu masalah yang paling umum dan  sering dialami para investor atau pelaku pasar di bursa Saham dalam  berinvestasi  adalah bagaimana memilih saham yang bagus dan prospektif sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal. Artinya saham yang dipilih harus mempunyai masa depan/prospek yang cerah yang tercermin dari pertumbuhan  harga sahamnya di bursa.  Jika harga saham meningkat atau terjadi pertumbuhan secara positif, investor akan memetik keuntungan  investasi. Jika harga saham stagnan dan tidak menunjukan pertumbuhan apa-apa, maka harapan investor menjadi sia-sia karena uang yang diinvestasikan tidak bertambah.  Apalagi jika harga saham malah turun atau tumbuh secara negative maka investor akan menderita kerugian karena  nilai uangnya berkurang. Karena itu sebenarnya proses  memilih saham dalam berinvestasi di pasar modal adalah merupakan suatu tahapan yang menyenangkan.  Setidaknya  adrenalin  pelaku pasar akan terpacu. Karena pada  tahapan  ini pelaku pasar tidak  hanya membutuhkan proses berpikir yang cukup keras dan teliti, tapi seringkali juga melibatkan emosi atau rasa.  Dalam proses memilih saham inilah selalu dicari dasar pertimbangan yang logis, rasional, masuk akal dan dapat dipertanggung jawabkan. Maklum di bursa efek menyediakan banyak alternative saham untuk dipilih. Setiap investor dan manajer investasi juga mempunyai gaya perhitungan sendiri sesuai dengan seleranya  masing-masing untuk memilih saham yang diminati. Bicara mengenai dasar pertimbangan yang logis, rasional, masuk akan dan dapat dipertanggung jawabkan dalam  memilih saham tadi adalah PER atau P/E (price earning rasio). Merupakan suatu rasio yang amat sering dipakai untuk memilih saham oleh para pelaku pasar modal. PER atau P/E (Price Earning Ratio) adalah perbandingan  harga pasar saham  dengan dengan laba persaham (EPS/earning Pershare). PER dihitung dengan  membagi harga pasar saham dengan laba persaham (EPS/earning Pershare). Semakin rendah angka rasio PER ini maka artinya saham tersebut semakin bagus atau semakin murah dan layak untuk di beli.  Misalkan Harga closing pasar saham Indofood CBP pada tanggal 24 September  2012 adalah Rp 6350, EPS tahun 2011 adalah 339/lbr saham. Maka PER Indofood CBP adalah 6350/339=18,7 kali. Dalam artian harga saham perusahaan tersebut  18,7 kali dari laba bersih persahamnya. Jika seandainya laba bersih tersebut dibagikan kepada seluruh pemegang saham, investor akan menerima dalam 18,7 tahun supaya investasinya dapat kembali, dengan anggapan inflasi masih nol persen dan perusahaan masih tetap memberikan laba setiap tahunnya  Rp 339. Jika dihitung  1/PER (1/18,7) maka hasil yang diperoleh bisa dikatakan sama dengan pengertian “hasil pengembalian yang diperoleh”. Pada saham Indofood CBP diatas tingkat pengembalian pada saham tersebut adalah sebesar  5,35%. Bila tingkat pengembalian ini dibandingkan dengan tingkat pengembalian  pasar saham (kelompok saham dalam satu sector yang sama atau seluruh saham dalam bursa) lebih tinggi dari tingkat pengembalian pasar saham secara keseluruhan atau dalam sector yang sama berarti investasi itu layak. PER juga digunakan oleh para Pemodal untuk membuat keputusan  membeli saham. Umumnya investor/pemodal akan membeli  saham dengan PER kecil, karena PER yang kecil mencerminkan laba bersih persaham yang cukup  besar  dan harga yang rendah.  Cara yang digunakan kebanyakan investor  untuk memutuskan membeli saham yang bagus berdasarkan PER yang kecil adalah dengan membandingkan PER  saham perusahaan dengan saham perusahaan lainnya yang sejenis atau satu sector atau bahkan dengan PER semua saham yang ada di bursa.  Pada Juni 2012 P/E Pasar bergerak sebesar  20,01 kali, artinya investasi yang dilakukan akan memberikan tingkat pengembalian  selama 20 tahun.  Jadi PER pasar ini dapat dibandingkan dengan PER dari suatu saham. Yang lebih bagus adalah membandingkan P/E (PER) suatu saham dengan P/E saham-saham dalam satu jenis perusahaan /satu sector perusahaan. Apabila P/E suatu saham lebih rendah dari pada P/E saham- saham  industry yang sejenis (satu sector)  berarti saham tersebut murah dan layak untuk dibeli.  Tetapi jika sebaliknya jika P/Enya  lebih tinggi dari saham-saham perusahaan sejenis maka  investor tidak perlu membeli saham tersebut karena mahal harganya. Lantas  apakah  P/E yang tinggi selalu tidak bagus?  Tidak juga, justru kebanyakan P/E saham yang tinggi pada kenyataannya  banyak diminati oleh investor atau  pelaku pasar yang berarti investor atau pelaku pasar tersebut memiliki tingkat  kepercayaan yang tinggi  kepada suatu saham. Ambil contoh saham CPIN memiliki P/E sebesar 21 kali lebih tinggi dari pada saham JPFA yang hanya 15,9 kali, sekilas kita menilai bahwa saham JPFA layak beli karena P/Enya  lebih murah dari CPIN, tetapi kalo kita lihat pertumbuhan EPSnya (EPS Growth) kedua saham tersebut selama lima tahun dari tahun 2007 sampai dengan 2011  yaitu saham CPIN=35%, JPFA=10%, maka dapat disimpulkan saham CPIN lebih layak untuk dibeli dibandingkan dengan JPFA walaupun saham CPIN secara P/E lebih tinggi tetapi saham tersebut mampu ditopang oleh pertumbuhan EPSnya yang tinggi.

Yang perlu jadi acuan investor adalah diusahakan jika memilih saham P/E yang lebih tinggi dari pada P/E saham-saham perusahaan sejenis adalah tidak lebih besar dari pada P/E bursa atau pasar  yang terjadi saat itu. Dan yang lebih penting lagi P/E yang lebih rendah dari P/E pasar itu karena saham perusahaan itu memberikan kontribusi yang sangat besar  terhadap perekonomian Negara.  Kenaikan harga saham yang mengakibatkan kenaikan pada P/E saham itu  sesuai dengan terjadinya kenaikan P/E pasar, maka hal yang sangat menentukan untuk mendongkrak kenaikan P/E atau harga saham itu adalah sentiment pasar. Maka boleh dibilang saham tersebut tidak layak untuk di investasikan dalam jangka panjang tetapi hanya cocok untuk jangka pendek. Para pemain pasar saham menyebutnya sebagai saham tempat “persinggahan sementara” sebelum mereka menemukan saham yang P/Enya masih murah (saham yang cocok untuk investasi jangka panjang). Arti tentang  tempat persinggahan sementara itu sendiri  adalah para pemain pasar dalam persinggahannya hanya berburu capital gain dari saham itu.

Faktor –faktor (variable) yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya P/E ratio adalah:

  1. Besarnya Deviden Pay Out Ratio (DPR)  atau disebut juga jumlah persentase deviden yang dibayarkan perusahaan kepada pemegang saham. Semakin tinggi DPR ini maka P/E saham juga semakin tinggi, hal ini tidak terlepas dari harapan  para investor yang menginginkan saham yang memberikan persentase pembayaran  deviden yang besar (dengan asumsi pertumbuhan deviden setiap tahunnya adalah tetap) bagi investor yang berorientasi ke DPR. Maka jika DPR naik otomatis harga saham naik dan P/E rasionya juga naik dan investor mendapatkan capital gain. Investor yang tidak berorientasi kepada  DPR, menginginkan DPR yang rendah sehingga harga saham mengalami peningkatan yang tinggi karena murahnya harga saham tersebut. Jadi keuntungan yang diperoleh investor yang tidak mengharapkan P/E tinggi hanya berasal dari capital gain bukan deviden.
  2. Tingkat pertumbuhan Deviden (deviden Growth). Semakin besar pertumbuhan deviden maka akan semakin tinggi  P/E rasio dari saham tersebut dan sebaliknya semakin kecil pertumbuhan deviden maka semakin rendah pula P/E rasio dari saham tersebut.
  3. Tingkat Yield (imbal hasil) yang diharapkan oleh para investor pada saham itu.  Bila Yield yang diharapkan semakin besar maka P/E rasio saham tsb  semakin kecil, sebaliknya bila Yield yang diharapkan semakin kecil maka P/E rasio saham tsb semakin besar. Kecil besarnya P/E rasio suatu saham yang diakibatkan oleh penurunan dan peningkatan yield bukan suatu alasan bahwa  saham tersebut lansung layak dibeli atau tidak. Tetapi investor perlu mempertimbangkan hal lain yaitu membandingkan P/E saham itu dengan P/E perusahaan sejenis (satu sector).
  4. Selain itu aksi korporasi dari Emiten juga turut mempengaruhi tinggi rendahnya P/E, misalnya aksi Buy back saham yang dilakukan emiten (membeli saham yang telah mereka diterbitkan/ yang beredar di pasar). Dengan demikian jumlah saham yang beredar di pasar (floating share) akan berkurang yang  selanjutnya  akan meningkatkan EPSnya sehingga pada akhirnya akan menurunkan P/E saham itu.

Cara Perhitungan P/E

 

Ada beberapa cara menghitung P/E salah satunya sebagai berikut:

  • Menggunakan data masa lalu atau menggunakan data EPS perusahaan priode sebelumnya untuk menghitung P/E . Tehnik ini bisa juga disebut P/E historis, kebanyakan P/E yang dipublikasikan di media adalah P/E jenis ini.
  • Menggunakan  data EPS estimasi untuk periode satu tahun yang akan datang. P/E yang menggunakan hitungan seperti  ini dinamakan dengan P/E  Proyeksi  atau Projected P/E.  Biasanya jenis  P/E Proyeksi banyak dikeluarkan oleh para analis sekuritas dalam laporan riset mereka.

Pertanyaannya manakah perhitungan P/E yang benar?  Pada dasarnya kedua perhitungan P/E masing2 diatas adalah benar tergantung dari sudut pandang masing2 orang. Jika mengacu pada pendapat mengenai perhitungan P/E historis bahwa perhitungan tersebut didasari oleh fakta/bukti yang ada dilapangan jadi bukan sekedar berandai-andai atau ramalan yang belum tentu tepat. Bagi orang2  yang menggunakan cara perhitungan P/E historis seperti ini beranggapan bahwa masa depan perusahaan ditentukan oleh kinerjanya dimasa lalu. Sedangkan alasan sebagaian orang untuk memakai perhitungan P/E Projected adalah dikarenakan adanya harapan bagi investor atau pelaku pasar untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dari investasinya.  Harapan berarti sesuatu yang belum terjadi. Karena itu untuk mengukur P/E suatu saham EPS yang menjadi patokan adalah bukan EPS yang sudah terjadi atau tercapai, melainkan EPS proyeksi. Berapa proyeksi laba bersih per saham yang akan dicapai oleh perusahaan.

Ditulis dan disusun oleh Penulis SeleksiSaham.com dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>